PENDAHULUAN
Pelayanan konseling pastoral dewasa ini dirasakan semakin penting, baik dari sisi teologisnya maupun dari sisi praktisnya. Yakub B. Susabda, seorang ahli di bidang pastoralia di Indonesia mengatakan bahwa pelayanan konseling pastoral ini merupakan suatu pelayanan yang makin hari makin merebut tempat yang sentral dalam seluruh kehidupan pelayanan gereja. Urgensi pelayanan konseling pastoral ini tentunya pertama-tama bertitik tolak dari pengajaran Alkitab, terutama pengajaran Tuhan Yesus dan bahkan yang telah dilakukan-Nya sendiri, misalnya ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia akan memberikan kelegaan kepada setiap orang yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28). Pada sisi lain kebutuhan jemaat akan pelayanan konseling pastoral ini sangat mendesak seiring dengan semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh jemaat kita dan tidak cukup ditangani hanya satu kali saja, tetapi membutuhkan waktu beberapa kali pertemuan dan pendampingan yang serius.
Ada berbagai jenis atau pun metode yang dilakukan dalam pelayanan konseling pastoral ini. Salah satunya adalah pastoral klinis. Secara sederhana pastoral klinis ini ditujukan untuk memberi pelayanan yang lebih baik dan efektif kepada orang sakit. Dalam perkembangannya, dan tanpa mengabaikan pelayanan konseling pastoral yang lain, ternyata pelayanan pastoral klinis ini sangat dibutuhkan, dan dirasakan perlu adanya suatu upaya untuk menolong para pelayan dalam melakukan pelayanan pastoral secara lebih baik dan efektif. Dalam kerangka upaya menolong para pelayan itulah kemudian muncul suatu pendidikan pastoral klinis, Clinical Pastoral Education (CPE). Dalam banyak praktiknya, CPE ini bisa diterjemahkan sebagai Pelatihan Pastoral Klinis. Pengalaman penulis sendiri dalam CPE menunjukkan bahwa kegiatan ini sifatnya memang edukatif dan sekaligus melatih diri untuk lebih baik secara personal (minister) dan profesional (ministry). Tulisan ini sifatnya informatif tanpa kehilangan dimensi edukasinya.
GAMBARAN UMUM CPE
CPE merupakan pelatihan profesional yang sifatnya oikumenis, karena melibatkan peserta dari berbagai denominasi gereja, dan berorientasi pada pelayanan. Pelatihan ini mengarahkan pesertanya (yang biasanya mahasiswa/i teologi dan para pelayan gereja) dari berbagai denominasi untuk berjumpa dengan orang-orang yang berada dalam krisis(persons in crisis). Melalui perjumpaan yang intensif dengan orang-orang yang membutuhkan karena krisis/masalah yang sedang mereka hadapi, ditambah dengan umpan balik dari rekan-rekan peserta pelatihan dan supervisor, peserta mengembangkan kesadaran baru akan diri mereka sendiri sebagai “manusia” dan akan kebutuhan orang-orang yang dilayani.
Dari refleksi teologis atas situasi-situasi manusia, peserta kemudian memperoleh pemahaman yang baru tentang pelayanan, dan kemudian mengembangkan keahlian pastoralnya dalam membangun relasi yang lebih baik secara personal dan profesional. Pada sisi lain pelatihan ini mengarahkan peserta untuk memberikan perhatian, pendampingan atau pun kepedulian spiritual kepada pasien, keluarga dan staf rumah sakit. Itulah sebabnya muncul istilah Clinical Pastoral Care. Pelatihan ini mengambil tempat di Rumah Sakit di mana pasien berada, dengan menggunakan waktu 10 minggu sesuai dengan standar Pastoral Care Foundation (PCF), yang di wilayah Asia berpusat di Filipina. Di Indonesia rumah sakit yang digunakan oleh United Evangelical Mission (UEM) untuk melaksanakan pelatihan 10 minggu ini selama beberapa kali adalah RS PGI Cikini – Jakarta.
Elemen-elemen penting dari CPE menyangkut:
• Praktik nyata dari pelayanan kepada orang yang berada dalam krisis
• Laporan terinci dan evaluasi akan praktik nyata dari pelayanan itu
• Pembinaan Pastoral
• Gambaran proses pembelajaran
• Perspektif teoritis dari seluruh elemen program
• Kelompok kecil peserta dengan pengalaman pembelajaran sehari-hari
• Ada periode waktu tertentu
• Kontrak individual untuk pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan CPE
• Program CPE harus dipimpin/dilatih oleh supervisor yang telah mendapat sertifikasi atau rekomendasi dari PCF, atau Association for Clinical Pastoral Education (ACPE).
Oleh karena prinsip utama CPE adalah melayani dan belajar dari pengalaman, maka jadwal setiap hari seringkali menyangkut seminar klinis, di mana peserta mempresentasekan pelayanan pastoral yang telah dilakukannya melalui penulisan verbatim, untuk disharingkan atau didiskusikan bersama dengan peserta lain dan supervisor, dan selanjutnya mendapatkan masukan-masukan (inputs)umpan balik(feedback), seminar didaktis dengan metode ceramah atau kuliah, diskusi tentang buku atau artikel pastoral, eksplorasi akan persoalan-persoalan teologis, pertemuan peserta dalam kelompok, pertemuan antar-perseorangan dalam kelompok untuk sharing bersama dalam rangka membangun kepedulian, dukungan dan relasi yang lebih baik satu dengan yang lain, dengan tetap memberi tempat pada ibadah dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual, serta kegiatan piknik kelompok – biasanya setelah evaluasi pada pertengahan waktu (midpoint evaluation).
Pengalaman evaluasi dengan sesama peserta dan dengan supervisor merupakan bagain dari pelatihan ini, yang dijadwalkan satu pada pertengahan kegiatan dan satu pada akhir kegiatan pelatihan. Evaluasi ini ditujukan untuk melihat dan mengetahui sejauh mana peserta telah memperoleh manfaat dan telah bertumbuh selama pelatihan.
Gerakan Awal dan Perkembangan CPE
Pdt. Anton Boisen adalah perintis pertama dari gerakan CPE. Dialah pendeta pertama yang membina peserta dalam suatu pelatihan yang sekarang kita kenal sebagai CPE. Dia yakin bahwa studi tentang pengalaman-pengalaman manusia merupakan jalan untuk menantang peserta supaya berpikir secara teologis. Dia menyebutnya sebagai upaya membaca dokumen manusia yang hidup. Inilah yang menjadi suplemen penting pelatihan ini.
Suatu saat pada tahun 1925, Pdt. Boisen menjadi pasien di Boston, Massachusetts, U.S.A. Pada saat-saat sepinya dia membutuhkan seseorang untuk mengungkapkan kebutuhannya. Tidak ada seorang pun yang menyediakan waktu baginya. Dia menyadari bahwa kesehatan merupakan keselarasan dari berbagai elemen yang tidak dapat dipenuhi hanya oleh obat-obatan, tetapi juga meminta usaha-usaha terpadu dari unsur spiritual dan psikologi.
Ini merupakan penyembuhan dengan pendekatan holistik di mana ilmu medis, iman/agama dan beberapa disiplin ilmu yang lain ikut bersama membagi pengetahuan dan referensi mereka yang luas untuk membentuk tim penyembuhan.
Pada bulan Juni 1925, program dimaksud dimulai dan melayani dua target utama:
• Perhatian yang lebih baik kepada pasien
• Pelatihan yang terarah (supervised training) untuk para pelayan
Program inilah yang sekarang kita sebut sebagai Clinical Pastoral Education disingkat CPE. CPE telah berkembang dan mendapatkan respon internasional, sehingga telah menjadi kebutuhan umum. Perkembangannya juga meluas ke negara-negara bagian lain di Amerika Serikat, dan di tahun 1965 seorang pendeta Episkopal Pdt.Albert Dalton memperkenalkan CPE ke Filipina dan memulai pusat CPE di Rumah Sakit St. Luke’s Medical Center. Di sana ada salah seorang supervisor perintis orang Filipina yang telah dilatih kemudian dikirim ke Amerika Serikat, seperti Rev.Narciso Dumalagan. Dia kembali ke Filipina setelah pelatihan 2 tahun, sedangkan yang lain tidak kembali. Di Filipina sendiri CPE sekarang beroperasi di Metro Manila Centers seperti: RS St. Luke’s Medical Center,Makati Medical Center, University of Santo Tomas Hospital, and National Kidney Transplant Institute, Visayas: Silliman University Hospital and Visayas Community Medical Center, Mindanao: San Pedro Hospital and Brokenshire Integrated Health Ministries, Inc.
Pada tahun 2002 UEM mengutus Pdt. Horst Ostermann ke Filipina untuk mengaktifkan kembali kegiatan CPE mereka yang sudah tidak aktif. Horst memulainya di VCMC (Visayas Community Medical Center). Beberapa pendeta atau pelayan gereja dari Indonesia anggota UEM turut pula diundang. Sekitar 20 orang dari Indonesia telah berpartisipasi dalam pelatihan selama 10 minggu itu di kota Cebu, Filipina.
Selanjutnya UEM memperkenalkan CPE di Indonesia. Pdt. Horst Ostermann, seorang Pembina CPE dari Jerman sangat berjasa dalam melaksanakan pelatihan CPE di Indonesia, yang pada awalnya bersifat pengenalan saja di beberapa tempat di Sumatera dan Jawa. Pelatihan pertama dilaksanakan pada tahun 2004 di Sumatera Utara. Pada tahun 2007 Suster Tentai Saniel membina pelatihan pertama dengan waktu 10 minggu dengan mendapatkan sertifikasi dari PCF yang dipilih oleh UEM. Pdt. Esther Gelloagan, dari UCCP, kemudian membina pelatihan 10 minggu kedua. Setelahnya disupervisi oleh Pdt. Edward F. Sauro, dari UCCP selama tiga kuarter sampai pada tahun 2009 ini. Dua pelatihan terakhir, dibantu oleh seorang co-supervisor bernama Pdt. Lermy Lwankomezi dari ELCT, Tanzania.
Manfaat Program:
Pasien:
1. Menyembuhkan dengan mengenal dan menghargai nilai-nilai spiritual pasien;
2. Memperkaya pasien secara spiritual melalui pelayanan kehadiran (ministry of presence);
3. Berjalan bersama pasien dalam kesakitan, penderitaan dan krisis mereka;
4. Merekomendasikan pasien kepada perawat, dokter dan hal-hal administratif.
Keluarga:
1. Mengenal dan menghargai keluarga secara spiritual dengan memberikan dukungan melalui kehadiran, tidak memaksakan agama, dan tidak mencoba menyelesaikan masalah;
2. Memproses perasaan-perasaan keluarga seperti kemarahan, kebingungan, keprihatinan dan dukacita;
3. Mengarahkan keluarga pada kebutuhan-kebutuhan pasien;
4. Mendengarkan perhatian keluarga tentang pasien;
5. Pada saat kematian pasien, pelayan (chaplain) tinggal bersama keluarga;
6. Memfasilitasi keluarga dalam hal mengambil keputusan-keputusan medis;
7. Menolong keluarga dalam hal complain (keberatan).
Staf:
1. Mendukung staf dalam hal perhatian medis kepada pasien dan keluarga, dan sebaliknya;
2. Memberikan/menyediakan kehadiran spiritual;
3. Menyediakan konseling spiritual kepada staf (doa);
4. Menyediakan tempat yang aman untuk berkonsultasi dengan staf;
5. Mengajarkan rekonsiliasi bukan resolusi/pemecahan kesedihan/masalah;
6. Mengajarkan bagaimana berjalan bersama dengan pasien.
CPE: Better Minister, Better Ministry
Bagi peserta pelatihan secara personal program ini sangat bermanfaat dalam hal pematangan kepribadian melalui penemuan dan kesadaran diri sendiri (self discovery and awareness). Pada gilirannya secara professional program ini sangat membantu peserta untuk melakukan pelayanan pastoral yang lebih baik dan efektif kepada pasien atau pun warga jemaat. Singkatnya pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan keahlian pastoral dari pesertanya, terutama keahlian untuk mendengarkan dan berempati terhadap situasi orang lain, sehingga peserta dapat menjadi pendamping yang lebih baik dan efektif bagi orang lain. Untuk mencapai tujuan ini tidak bisa dalam satu hari atau satu malam saja, tapi bisa membutuhkan waktu yang cukup lama yang disertai dengan pembinaan atau pengarahan dari supervisor. Di sini peserta membutuhkan pembinaan/pengarahan (supervisi) dan membutuhkan proses yang memampukannya untuk mengevaluasi peranan pelayanannya, serta identitas personal dan pastoralnya (profesional). Seorang peserta didampingi bukan hanya oleh supervisor, melainkan juga oleh sesama peserta, staf rumah sakit, dan bahkan para pasien dan keluarga.
Dengan demikian, pelayan (minister) dan pelayanan (ministry) tidak bisa dipisahkan. Kepribadian (personal) dan keahlian (profesional) seorang pelayan sangatlah menentukan keberhasilan atau efektifitas suatu pelayanan pastoral.
Pertanyaan ialah bagaimana pelatihan ini bisa menolong kita untuk bisa mengenal, memahami dan menerima diri sendiri apa adanya? Bagaimana pula pelatihan ini bisa menolong dalam upaya peningkatan keahlian kita dalam pelayanan pastoral?
Untuk mencapai pribadi dan pelayanan yang lebih baik maka dibutuhkan banyak pengalaman melayani. Pengalaman melayani ini diperoleh melalui kunjungan kepada orang-orang yang sedang berada dalam krisis atau masalah dan melakukan percakapan pastoral dengan mereka. Semakin sering melakukan kunjungan dan percakapan pastoral, semakin banyak pula pengalaman yang diperoleh.
Untuk memperkaya pengalaman-pengalaman dalam pelayanan itu diperlukan suatu refleksi dan evaluasi. Menuliskan verbatim merupakan cara yang sangat ampuh untuk melakukan refleksi dan evaluasi dimaksud, karena melalui verbatim itu kita menganalisis respons kita selama percakapan pastoral untuk kemudian mengevaluasi tingkat efektifitas pelayanan kita.
Seiring dengan refleksi dan evaluasi yang dilakukan, kita juga diberi kesempatan untuk memperhatikan dan mendeteksi bagaimana perasaan atau emosi-emosi kita mempengaruhi (menolong dan menghalangi) pelayanan yang kita lakukan. Pada kedua tahap terakhir inilah (refleksi & evaluasi dan emosionalitas) kita seringkali mengalami kesulitan untuk melihat ke dalam diri sendiri, dan bahkan tidak sedikit orang yang tidak mau melihat ke dalam diri sendiri. Padahal sesungguhnya, justru pada kedua tahap terakhir inilah kita sangat tertolong untuk menjadi lebih baik secara personal dan profesional. Itulah sebabnya verbatim terkenal sebagai alat (tool) yang sangat ampuh untuk mengenal diri sendiri, entah kekuatan atau kekurangan. Itulah sebabnya pelatihan CPE seringkali disebut sebagai pelatihan “for better minister and better ministry” (pelayan yang lebih baik dan pelayanan yang lebih baik).
Dalam pengembangan dan penerapan yang lebih luas, better minister dan better ministry ini ternyata tidak hanya berlaku dalam hal pelayanan pastoral klinis saja, tetapi memiliki dampak yang sangat positif dalam bidang-bidang pelayanan yang lain. Metode dan pendekatan-pendekatan yang didalami secara praktis selama pelatihan akan sangat menolong kita untuk mengefektifkan pelayanan-pelayanan kita yang lain, seperti kepemimpinan, manajemen konflik, khotbah, hingga ke percakapan sehari-hari dengan setiap orang di sekitar kita.
AKHIRULKALAM
Kita menyadari bahwa pelayanan pastoral merupakan bagian integral dari pelayanan gereja. Karenanya kita tidak bisa menganggapnya sebagai pelengkap atau pelayanan yang dilakukan hanya apabila ada waktu. Dari sisi layanan pastoral klinis, ketekunan kita dalam melakukan kunjungan, percakapan dan pelayanan pastoral kepada orang yang sedang membutuhkan karena berbagai krisis dan persoalan yang mereka hadapi, sesungguhnya akan menolong diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik.
Dalam konteks yang lebih luas, pelayanan pastoral klinis tidak bisa dibatasi oleh ruang atau tempat (seperti rumah sakit), tidak juga dibatasi oleh kondisi tertentu saja (seperti orang sakit), tetapi ia seharusnya hadir di segala tempat pelayanan dalam setiap situasi yang tengah dialami oleh orang-orang yang ada di sekitar kita. Tujuannya adalah untuk mendampingi, membimbing dan memberdayakan setiap orang dalam persoalan dan pergumulan hidup yang mereka alami, bahkan dalam sukacita yang mereka nikmati.
Perlu dicatat bahwa layanan pastoral klinis merupakan sebuah proses yang terus menerus mengalami perkembangan. Sifatnya dinamis dan berorientasi pada pertumbuhan. Melalui proses tersebut kita diarahkan untuk mengklinik pengalaman-pengalaman yang kita alami, sehingga kemudian kita menjadi terlatih. Kemauan dan komitmen untuk belajar sangatlah menolong untuk mencapai pertumbuhan yang signifikan, baik secara personal maupun profesional. Itulah sebabnya kita bisa menyimpulkan bahwa Pelatihan Pastoral Klinis merupakan Belajar dengan Melakukan (learning by doing), Belajar dari dan melalui Pengalaman (learning by experiences). Tidak ada pelayan yang sempurna, yang ada hanyalah pelayan yang lebih baik (better minister). Tidak ada juga pelayanan yang sempurna, yang ada hanyalah pelayanan yang lebih baik dan efektif (better ministry). Kita tidak perlu menyalahkan pelayanan yang pernah kita lakukan selama ini, sebab seburuk apa pun masih bisa dibuat menjadi LEBIH BAIK.

No comments:
Post a Comment